Senin, 23 Mei 2016

perkembangan masa anak awal, perkembangan psikomorik

PERKEMBANGAN MASA ANAK AWAL

PERKEMBANGAN PSIKOMOTORIK

A.    Pendahuluan
Masa kanak-kanak disebut “saat ideal” untuk mempelajari keterampilan motorik, karena tubuh anak lebih lentur ketimbang tubuh orang dewasa atau remaja, kurang memiliki keterampilan yang bertentangan dengan hal-hal baru yang mungkin telah dipelajari lebih dulu, menyenangi pengulangan, dan memiliki waktu yang lebih lama untuk mempelajari keterampilan motorik ketimbang waktu yang mereka miliki ketika mereka sudah besar.
Hal-hal yang penting dalam mempelajari keterampilan motorik adalah: kesiapan dan kesempatan belajar, motivasi, model yang baik dan bimbingan.
Dalam makalah ini akan membahas tentang pengertian psikomotorik, perkembangan psikomotorik, dan bahaya dalam perkembangan psikomotorik.
 
 B.     Pembahasan
1.      Pengertian Perkembangan Psikomotorik
Perkemabangan psikomotorik adalah perkembangan kepribadian manusia yang berhubungan dengan gerakan jasmaniah dan fungsi otot akibat adanya dorongan dari pemikiran, perasaan dan kemauan  dari dalam diri seseorang.[1]Perkembangan psikomotorik berarti perkembangan pengendalian gerakan jasmaniah melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf dan otot yang terkoordinasi. Pengendalian tersebut berasal dari perkembangan refleksi dan kegiatan massa yang ada pada waktu lahir. Sebelum perkembangan tersebut terjadi, anak akan tetap tidak berdaya. Akan tetapi, kondisi ketidakberdayaan tersebut berubah secara cepat. Selama empat atau lima tahun pertama kehidupan pascalahir, anak dapat mengendalikan gerakan yang kasar. Gerakan tersebut melibatkan bagian badan yang luas yang digunakan dalam berjalan, berlari, melompat, berenang dll.
Setelah berumur lima tahun, terjadi perkembangan yang besar dalam pengendalian koordinasi yang lebih baik yang melibatkan kelompok otot yang lebih kecil yang digunakan untuk menggenggam, melempar, menangkap bola, menulis dan menggunakan alat.
Seandainya tidak ada gangguan lingkungan atau fisik atau hambatan mental yang mengganggu perkembangan motorik, secara normal anak yang berumur enam tahun akan siap menyesuaikan diri dengan tuntutan sekolah dan berperanserta dalam kegiatan bermain teman sebaya. Masyarakat mengharapkan yang seperti itu dari anak. Sebagian tugas perkembangan anak yang paling penting dalam masa prasekolah dan dalam tahun-tahun permulaan sekolah, terdiri atas perkembangan motorik yang didasarkan atas penggunaan kumpulan otot yang berbeda secara terkoordinasi.
Seandainya tidak ada gangguan kepribadian yang menghambat, anak yang memiliki sifat yang sesuai dengan harapan masyarakat akan melakukan penyesuaian sosial dan pribadi yang baik. Sebaliknya, dalam diri anak yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan harapan masyarakat, akan berkembang perasaan tidak mampu yang akan melemahkan semangat mereka untuk mencoba mempelajari apa yang telah dipelajari oleh teman sebaya mereka.
Perkembangan psikomotorik turut serta menyumbang bagi penyesuaian sosial dan pribadi anak, diantaranya adalah:
a.       Kesehatan yang baik.
Kesehatan yang baik yang sebagian bergantung pada latihan penting bagi perkembangan dan kebahagiaan anak. Apabila koordinasi motorik sangat jelek sehingga prestasi anak berada dibawah standar kelompok sebaya, maka anak hanya memperoleh kepuasan yang sedikit demi kegiatan fisik dan kurang termotivasi untuk mengambil bagian.
b.      Katarsis emosional.
Melalui latihan yang berat, anak dapat melepaskan tenaga yang bertahan dan membebaskan tubuh dari ketegangan, kegelisahan dan keputus asaan. Kemudian mereka dapat mengendurkan diri, baik secara fisik maupun psikologis.
c.       Kemandirian.
Semakin banyak anak melakukan sendiri, semakin besar kebahagiaan dan rasa percaya atas dirinya. Ketergantungan menimbulkan kekecewaan dan ketidakmampuan diri.
d.      Hiburan diri.
Pengendalian motorik memungkinkan anak berkecimpung dalam kegiatan yang akan menimbulkan kesenangan baginya meskipun tidak ada teman sebaya.
  e.       Sosialisasi.
Perkembangan motorik yang baik turut menyumbang bagi penerimaan anak dan menyediakan kesempatan untuk mempelajari keterampilan sosial. Keunggulan perkembangan motorik memungkinkan anak memainkan peran kepemimpinan.
f.       Konsep diri.
Pengendalian motorik menimbulkan rasa aman secara fisik, yang akan melahirkan perasaan aman secara psikologis. Rasa aman psikologis pada gilirannya menimbulkan rasa percaya diri yang umumnya akan mempengaruhi perilaku.[2] 2.      Perkembangan Psikomotorik
Perkembangan psikomotorik mencakup banyak aspek perkembangan yang kompleks antara lain:
1)      Perkembangan motorik kasar.
Yaitu perkembangan dari unsur kematangan, pengendalian gerak tubuh serta perkembangan tersebut erat kaitannya dengan perkembangan pusat motorik di otak. Perkembangan motorik kasar bila gerakan yang dilakukan melibatkan sebagian besar bagian tubuh dan memerlukan tenaga karena dilakukan otot-otot yang besar.[3]Usia 2,5-3,5 tahun, perkembangan motorik kasar anak adalah berjalan dengan baik, berlari lurus kedepan, melompat.
Usia 3,5-4,5 tahun, perkembangan motorik kasar anak adalah berjalan dengan 80% langkah orang dewasa, berlari 1/3 kecepatan orang dewasa, melempar dan menangkap bola besar, tetapi lengan masih kaku.
Usia 4,5-5,5 tahun, perkembangan motorik kasar anak adalah menyeimbangkan badan di atas satu kaki, berlari jauh tanpa jatuh dan dapat berenang dalam air yang dangkal.[4]2)      Perkembangan motorik halus.
Yaitu aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati sesuatu, melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu saja dan dilakukan otot-otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang cermat, misalnya kemampuan menggambar, memegang suatu benda. Hal ini tidak memerlukan tenaga serta koordinasi yang cermat.[5]Usia 2,5-3,5 tahun, perkembangan motorik halus anak adalah meniru sebuah lingkaran, tulisan cakar ayam, dapat makan menggunakan sendok dan menyusun beberapa kotak.Usia 3,5-4,5 tahun, perkembangan motorik halus anak adalah mengancingkan baju, meniru bentuk sederhana dan membuat gambar sederhana.Usia 4,5-5,5 tahun, perkembangan motorik halus anak adalah membedakan bentuk benda, dapat mengelem, merapikan baju serta dapat mengikat tali sepatu.[6]3)      Perkembangan bahasa dan bicara.
Kemampuan untuk memberikan respon terhadap suara, mengikuti perintah dan berbicara spontan. Bahasa adalah bentuk aturan atau sistem lambang yang digunakan anak dalam berkomunikasi dan beradaptasi dengan lingkungannya yang dilakukan untuk bertukar gagasan, pikiran dan emosi.Anak prasekolah sudah pandai bicara dalam kalimat yang terdiri dari 5-6 kata, menyebut namanya, jenis kelamin dan umurnya, banyak bertanya, mengenal sisi atas, bawah, depan dan belakang, senang mendengar  cerita-cerita dan mengulang hal-hal penting dalam cerita. dapat berbicara dengan cukup jelas dan dapat dimengerti oleh orang lain, mengenal empat warna, dapat menyebut hari-hari dalam 1 minggu, minat pada kata-kata baru dan artinya, mengetahui beberapa lagu sederhana, dan protes bila di larang apa yang diinginkannya.4)      Perkembangan sosial.
Perkembangan sosial adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri, bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan disekitarnya.Perkembangan sosial yang dapat dilihat pada anak prasekolah yakni bekerja sama dan bermain dengan anak-anak lain, berjalan-jalan sendiri mengunjungi tetangga, belajar berpakaian dan membuka pakaian sendiri, menunjukkan rasa sayang pada saudara-saudaranya, anak dapat makan sendiri, anak senang menyanyi: menari, menaruh minat pada aktivitas orang dewasa, ingin seperti teman-temannya, ingin menyenangkan teman-temannya, lebih senang mengikuti aturan dan membutuhkan persetujuan saat ingin melakukan sesuatu.[7]

[1]  Desmita, Psikologi Perkembangan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2013), hlm. 13.
[2]  Elizabeth B. Hurlock, Perkembangan Anak, (Jakarta: Erlangga, 1978), hlm. 150.
[3]  John W. Santrock, Perkembangan Anak, (Jakarta: Erlangga, 2007), hlm. 210.
[4]  Haryadi, Perkembangan Individu, (Yogyakarta: Deepublish, 2013), hlm. 21.
[5]  John W. Santrock, Perkembangan Anak, (Jakarta: Erlangga, 2007), hlm. 216.
[6]  Haryadi, Perkembangan Individu, (Yogyakarta: Deepublish, 2013), hlm. 27.
[7]  Ibid, hlm. 32.